Selasa, 26 Februari 2019

Sewindu KBJ dan Hal-Hal Baik Yang Perlu Dirayakan

Februari –tepatnya 27 Februari- ini Kedai Buku Jenny genap berusia delapan tahun. Menuju usia sewindu ini, Kedai Buku Jenny berusaha untuk melibatkan lebih banyak orang tidak hanya dalam menginiasi kegiatan seperti yang telah dilakukan sebelumnya, namun lebih jauh ikut serta secara terencana dalam merancang berbagai aktivitas yang dilaksanakan oleh KBJ melalui Program Teman Pencerita yang diinisiasi sejak Desember 2018.

Melalui program ini, siapa saja diberi kesempatan untuk mengenali berbagai macam aktivitas serta seluk beluk KBJ. Harapannya, dengan mengenal KBJ lebih dalam teman-teman yang ikut serta dalam program ini tertarik untuk merancang dan melaksanakan beragam aktivitas di KBJ. Dan kabar baiknya karena antusiasme teman-teman untuk mengikuti program ini cukup besar dan berlanjut hingga saat ini. Program Teman Pencerita ini sendiri belum pernah dilaksanakan sebelumnya.

Sejak akhir tahun lalu, KBJ juga akhirnya bisa mewujudkan cita-cita lama untuk menginisiasi lahirnya teater anak yang kami beri nama Teater Anak Ketjil. Program teater anak ini kami rancang dengan niat sederhana yaitu untuk menciptakan kembali ruang bermain anak-anak yang memungkinkan mereka tetap dapat bercengkrama, bercakap dan berbahagia bersama teman-teman yang lain. Program ini kami prioritaskan untuk anak-anak yang bermukim di Kompleks Wesabbe Makassar dimana KBJ berada. Meski demikian secara rutin beberapa anak yang ikut serta dalam latihan juga berasal dari beberapa tempat yang cukup jauh dari Kompleks Wesabbe. Saat ini Teater Anak Ketjil sedang giat melaksanakan latihan untuk rencana pementasan pada Maret atau April 2019.

Selain dua hal itu, sepanjang tahun kemarin hingga saat ini, KBJ masih ikut serta dengan berbagai macam inisiatif kolaborasi bersama beberapa komunitas dalam kota maupun dari luar Makassar. Melalui berbagai kegiatan baik yang diinisiasi oleh KBJ sendiri atau oleh berbagai komunitas atau institusi, kami terus berupaya terlibat aktif dalm setiap upaya melahirkan ruang percakapan, diskusi dan interaksi melalui tema-tema seni, literasi dan politik warga. Karena bagi kami melalui percakapan, diskusi dan dialog lah berbagai kemungkinan-kemungkinan perubahan dapat kita pikirkan untuk kemudian kita rancang dan laksanakan.

Dan sebagai bentuk perayaan atas apa-apa yang telah dikerjakan bersama-sama ini, Kedai Buku Jenny akan melaksanakan beberapa kegiatan bertajuk Program Party Kedai Buku Jenny. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari (Jum’at-Sabtu, 1-2 Maret 2019) di Kedai Buku Jenny. Adapun rangkaian aktivitas dalam kegiatan ini yaitu : Launching Zine Teman Pencerita, Diskusi Dibelakang Layar Penulis, Diskusi dengan tema Seni dan Aktivisme dan KBJamming Vol. 23 yang sekaligus menjadi puncak acara perayaan sewindu Kedai Buku Jenny.

Akhirnya kegiatan ini kami inisiasi sebagai perayaan sederhana bagi siapa saja yang masih percaya bahwa siapa saja punya tanggungjawab untuk mengabarkan dan ikut serta bekerja untuk hal-hal baik.

Salam

Senin, 25 Februari 2019

Ruang yang Saya Temukan dalam RuangBaca

Oleh Harnita Rahman

Salah satu yang membuat saya bersemangat di awal tahun kemarin adalah berita akan rilisnya album duo folk andalan kami, Ruangbaca. Walau sejujurnya, kegembiraannya sedikit tereduksi karena akan dirilis dalam bentuk digital dulu. Sungguhlah apes bagi saya yang tidak begitu tertarik memasang aplikasi music jenis apapun di ponsel. Tidak satupun. Ponsel saya tidak begitu pintar dan pilihan aplikasi music yang walaupun gratis masih terkalahkan dengan dentuman cd player di perpustakaan rumah kami tiap pagi. Namun kabar itu tetaplah menggembirakan. Toh saya, akhirnya mengambil jalan menikung dengan meminta langsung file mentahnya. 

Kali pertama, di 2015 kami berjumpa Ruangbaca. Secara personal, mereka sudah sering wara wiri di KBJ. Saat itu, mereka berdua masih mahasiswa. Viny selalu datang membawa banyak mimpi-mimpi besarnya di hadapan kami, tentu bersama Ale yang kelihatan tenang dan selow yang selalu pandai menyembunyikan kegregetannya akan sesuatu. Kami mendengar mereka melalui soundcloud dan seketika langsung percaya mengajak mereka ke luar kota. Saat itu gelaran Hutan Bernyanyi digelar KBJ bersama teman-teman Balang di Bantaeng. 

Dan pilihan kami tepat adanya. Kala itu, selepas hujan, panggungnya sudah  poranda, Ruangbaca dalam panggung perdananya terpaksa tampil di bawah tenda yang seyogyanya untuk penonton. Umbul-umbul sudah kendor, background yang tersisa hanya hamparan sawah. Gembiranya, karena pemandangan itu, ternyata hampir sempurna bagi Ruang Baca. Mereka membawa lagu Terbangnya Burung, Diam-diam dan Disleksia.  Saya takjub, bisa mengingat itu dengan hampir sempurna, biasanya saya payah dalam megingat sesuatu. Sejak itu, kami di KBJ percaya bahwa duo anak muda yang saat itu sedang kasmaran-kasmarannya akan menghasilkan sesuatu.

Menurut Viny, album ini sudah siap rilis sejak tahun lalu. Saya yang secara pribadi kerap menanyainya, menodongnya, meminta  atau kadang terkesan menyuruh perkara albumnya tahu betul bahwa Ruangbaca hampir lelah menunggu hari perilisan tiba. Secara emosional, psikologis, dan kesiapan materi menurut saya, membuat Viny dan Ale melewati banyak proses belajar, yang akhirnya di pertengahan Febuari tahun ini melepas albumnya yang ciamik ke pasar.

Proses panjang, yang dilalui Ruangbaca, seperti yang kita percayai “tidak akan menghianati hasilnya”. Ruangbaca memukau mata dan telinga pendengarnya. Ia mengemas rapih dan cantik proses peluncuran albumnya. Berkonsep, tidak asal-asalan dan yang utama melibatkan banyak orang dalam prosesnya. Hal ini tentulah kabar gembira, apalagi sejak awal Ruangbaca secara tegas menyatakan keberadaannya sebagai medium mengkampanyekan perpustakaan. Semakin banyak yang mendengar dan yang terlibat di album ini tentu adalah kabar baik bagi gagasan yang mereka usung.

Album Belantara Kata sejak sebelum direlease sudah wara-wiri di ruang dengar rumah kami. Puisi yang dinyanyikan Ale dan Viny hampir menemani kami menjalankani rutinitas keseharian, apalagi nomor-nomor andalan yang selalu mereka bawakan di panggung. Tapi jujur, baru setelah resmi diluncurkan, saya menyiapkan waktu sendiri untuk mendengarkannya secara seksama, kata per kata, bunyi menuju bunyi selanjutnya.

Menyanyikan puisi bukanlah hal yang baru dalam khasanah music kita. Tersebutlah Ari Reda yang melegenda karena karya-karyanya yang menyanyikan puisi Sapardi, Subagio Sastrowardoyo, dan beberapa penyair lainnya. Tahun lalu juga, ada Oppie Andaresta yang meluncurkan album musikalisasi puisinya bertajuk Baju Bulan, menyanyikan puisi-puisi Joko Pinurbo. Atau ada Melanie Subono yang kerap menyanyikan puisi-puisi Wiji Thukul. Dan bagi saya yang mengenal ragam music di kampus, tentu tidaklah bisa menegasikan kelompok-kelompok seni kampus yang kerap menjadikan puisi-puisi yang telah mereka baca menjelma dalam alunan music.
  
Dan, menurut saya Ruangbaca mencoba merombak batasan tersebut.  Hampir semua musisi yang berkonsep meyanyikan puisi, selalu menggunakan puisi orang lain, dan kebanyakan adalah puisi yang sudah dikenal, Ruangbaca setidaknya menulis 9 puisinya sendiri. Kemudian, puisi yang selama ini dinyanyikan, kebakanyakan maknanya telah menerima tafsiran yang beragam, yang menurut saya berpotensi untuk menegasikan komponen musiknya. Sederhananya, puisi tersebut sudah memiliki nyawanya sendiri yang tidak berubah saat dialunkan. Puisi Suara nya Wiji Thukul misalnya yang kerap dinyanyikan Melani Subono atau aransemen Bunga dan Tembok yang dibuat oleh Fajar Merah. Akan sulit melepaskannya dengan kenyataan sisi gelap sejarah bangsa kita yang melandasi puisi tersebut, dan jika saya dengar dalam aransemen beragam, suasana yang terbawa tetap sama, walau bukan berarti buruk .

Musik Ruang Baca sendiri, telah mengantar saya secara pribadi masuk dalam banyak suasana. Aransemen music yang ringan menurutku adalah pilihan tepat untuk menjelajahi puisi mereka. di Dalam lagu Dongeng, misalnya saya menemukan kebahagiaan dan keindahan sekaligus,  membayangkan fragmen masa kanak-kanak yang bahagia dan divisualkan dalam gerak lambat, jelas beserta ornamen warna-warni yang  indah. Di Balik Jendela, mempertemukan saya dengan harapan yang selalu bisa dimodifikasi tanpa mengurangi besaran nilainya. Belantara Kata, secara tegas menyandingkan kabar baik yang tidak berhenti bergema di tengah  gempitanya pembangunan kota. Hampir semua lagu yang saya dengar, memiliki ruang bicaranya sendiri dan itu menarik. Namun, diantara semua lagu di album ini, salah satu lagu yang membuat saya bersyukur adalah “Candu dan Hal-Hal yang Tak Kau Tahu.

Saat mendengarnya pertama kali dengan meperhatikan lirik per lirik, saya langsung terdiam. Menghentkan pekerjaan saya dan menangis. Satu-satunya yang saya pikirkan adalah betapa dewasanya mereka. Lagu ini dalam ruang dengar saya berhasil memporak-prandakan kesembongan yang kadang saya pelihara dan biarkan tumbuh membesar dalam diri saya. Hari itu, lagu ini saya putar berulang, berkali lalu menangis sejadinya. Dan begitulah puisi menurut saya, punya kuasa. Tapi, saya sadar betul, saya tidak akan semewek itu, jika puisi ini tidak disajikan dalam bentuk lagu.

Keputusan Ruangbaca menyanyikan pusinya sendiri, menurut saya memberikan ruang diskursus yang lebih lebar. Entah tafsiran personal atau kritik terhadap puisi atau pada gagasan mereka. Apakah puisi mereka hanya mengandalkan bunyi semata? Apakah puisi mereka bertumpu disksi dan repitisi saja? Apakah dalam keindahan kata yang terbalut music mereka menyimpan amarah yang besar atau mungkin harapan yang sia? dan banyak pertayaan semacam itu yang bisa muncul dari puisi yang mereka nyanyikan. Dan hal tersebut, sekali lagi tentu akan digiring pada berhasil atau tidaknya upaya pusi dan music ini dalam kampanye “belajar” yang diusung oleh Ruang Baca. 

Pertanyan-pertanyaan tersebut menanti kita semua untuk membicarakannya. Karena bagi saya, music adalah ruang belajar yang nyaris sempurna. Kau bisa berdialektika dan bergoyang bersamaan. Kau bisa berkontemplasi dan menari sekaligus. Kau bahkan bisa mengumpat sembari berdansa. Menakjubkan, bukan? dan ruang tersebut sungguh saya temukan saat mendengar Ruangbaca.

Tentunya, untuk semua proses yang saya lewati itu, terima kasih  Ruangbaca.

Kamis, 21 Februari 2019

Cerita Singkat Perihal Panik di Perpustakaan

Oleh : Ratu / Teman Pencerita



Sebuah karya sastra tidak lahir begitu saja, tetapi melalui perenungan panjang tentang hidup dan kehidupan. Melalui karya sastra, representasi hidup digambarkan lewat sudut pandang penulis, dengan cara yang beragam dan unik. Buku sebagai karya sastra seringkali menjadi ruang temu bagi pembaca dengan kisah-kisahnya sendiri. Saat membaca buku, kita mugkin pernah merasa ikut terseret ke dalam alur yang dikisahkan buku tersebut. Entah karena hal yang sama pernah dialami atau kesempatan yang sama pernah terjadi pada diri kita. Bahkan mungkin, sesuatu yang baru telah kita pelajari–sehingga membuat kita tercengang, marah, bahagia, sedih, atau bahkan kecewa dan merasa tolol setelahnya–lewat buku yang dibaca. Buku menjadi representasi yang kompleks dengan menghadirkan berbagai konteks yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ada beragam definisi mengenai buku sebagai sebuah karya sastra yang cukup kompleks dalam membahas persoalan manusia dan kehidupannya.

Melalui Panik di Perpustakaan yang diadakan oleh Kedai Buku Jenny pada Jum'at, 1 Februari 2019. Definisi pada umumnya di dekonstruksi dan di alihwahanakan melalui media “bercerita”. Setiap orang barangkali adalah buku dan setiap buku bisa merepresentasikan kehidupan orang lain. Maka malam itu, di Kedai Buku Jenny, setiap yang datang diharuskan membawa buku yang menjadi kegemarannya; entah buku tersebut adalah hasil pembelian atau pemberian, entah sudah lama atau masih berplastik, entah sudah berkali-kali atau belum sempat ditamati. Pada akhirnya, semua yang hadir harus bercerita tentang buku dan dirinya masing-masing. Buku direpresentasikan sebagai hal yang hidup dalam kepala Teman Pencerita.  

Kesempatan bercerita pertama diberikan kepada Rahmat malam itu. Di genggamannya, buku berjudul Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, yang sudah ditamatinya beberapa kali, terlihat menarik. Ia memulai dengan membaca beberapa paragraf dari halaman yang menjadi favoritnya. Sependek yang saya ingat, halaman tersebut berkisah tentang perpisahan Annelies dengan Minke dan Nyai Ontosoroh yang tragis. Saya memahami emosi Rahmat saat menceritakan buku tersebut. Ia menggambarkan bagaimana sebuah sejarah dikemas dalam kisah yang ringan sehingga mampu membuat Rahmat membaca buku tersebut sampai tiga kali. Saya pun mengakui kehebatan Pram dalam merepresentasikan sejarah yang pernah bergumul dengan dirinya melalui sebuah karya sastra. Meskipun dengan sedikit bumbu fiksi, setiap yang membaca Bumi Manusia akan merasa diseret menuju tahun-tahun penuh pergolakan.


Meski tidak seperti Rahmat yang menamati Bumi Manusia sampai tiga kali, saya memahami ada gagasan besar yang hendak disampaikan Pram melalui karya-karyanya. Bukan hanya perihal bumi yang menjadi hunian manusia, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan tempat tinggalnya. Di sisi lain dari buku Pram yang dibaca Rahmat, saya menemukan realitas kisah asmara Minke dan Annelies. Selama ini, saya banyak membaca buku-buku bertema “romance”, tetapi kisah Minke cukup membekas dalam kepala saya. Pembaca disuguhkan pada kenyataan, bahwa cinta bukan hanya perkara saling membahagiakan, tetapi di atas semua kebahagiaan itu, ada fase ketika seseorang yang dicintai harus bisa direlakan kepergiannya.


Setelah Rahmat selesai dengan ceritanya tentang Bumi Manusia, peserta yang lain secara bergiliran mendapat kesempatan bercerita. Tidak banyak yang hadir malam itu, masih bisa terhitung jari. Meski begitu, saya tidak bisa menghapal judul-judul buku yang mereka bawa bersama cerita-ceritanya. Hanya beberapa saja, semisal buku yang Fandy dan Dodi ceritakan, Hujan Berkawali di Rumah Tuhan, "Saya mengenal buku kumpulan puisi penyair Malaysia – Indonesia itu saat kegiatan MIWF 2018. Kebetulan, dari banyaknya rangkaian kegiatan keren MIWF pada hari itu, hanya peluncuran buku Hujan Berkawali di Rumah Tuhan yang sempat saya hadiri. Saya baru menyadari bahwa salah seorang penulis yang berkonstribusi dalam buku tersebut berasal dari Makassar setelah kegiatan tersebut selesai. Bukan bermaksud rasis, tetapi entah kenapa saya selalu merasa ikut bangga ketika mendengar seseorang yang berasal dari kota tempat saya tinggal menoreh prestasi lewat karyanya."

Kegiatan Panik di Perpustakaan ditutup oleh Ami dengan buku kegemarannya, Tenggelamnya Kapal Vander Wijck karya Buya Hamka. Bagi yang pernah menonton filmnya, mendengar judul buku yang dibawa oleh Ami, tentu saja nama Zainuddin dan Hayati akan melintas. Buku yang menceritakan tentang kisah cinta sepasang kekasih yang terhalang restu orang tua karena adat. Sebuah realitas sosial yang barangkali masih mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kasta, tahta, dan harta masih sering menjadi tolok ukur restu pernikahan. Entah karena sanksi budaya atau gengsi sesama, pola pikir yang demikian kerap kali mencederai ruang lingkup sosial kita. Akibatnya, kalau bukan kawin lari, mungkin gantung diri (semoga tidak berlebihan). Terlepas dari sekelumit persoalan kebudayaan yang dihadirkan dalam novel tersebut, kami teman pencerita dibuat tersenyum menahan tawa dengan dialog yang dibacakan oleh Ami. Terbayang adegan Zainuddin dan Hayati dalam filmnya. Terekam bagaimana dialeg Zainuddin dan Hayati seringkali dijadikan guyonan oleh teman-teman saya di kampus.

Panik di Perpustakaan sebagai rangkaian dari kegiatan Teman Pencerita malam itu ditutup dengan tawa terbahak-bahak saat menyaksikan Dodi beberapakali megikuti cara Zainuddin berdialog dengan Hayati, lengkap dengan dialegnya. Sementara yang lain saling menyambung ingatan tentang potongan film tersebut. Seringkali, buku adalah ruang bagi dirimu untuk berbagi cerita, tawa, kebahagiaan, dan sekecil apa pun itu, kepada orang lain.

Makassar, 2019

Minggu, 17 Februari 2019

Musik dan Hal-Hal yang Mengusik


~sebuah usaha menuliskan peristiwa ala jurnalisme gonzo~
oleh Rudi / Teman Pencerita

Sederhananya, musik adalah kumpulan atau susunan nada yang mempunyai ritme tertentu dan mengandung isi atau nilai perasaan tertentu. Musik adalah bahasa universal. Musik telah banyak sekali mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Musik dapat membantu pembentukan sebuah peradaban. Musik digunakan sebagai media penyembahan bagi beberapa kepercayaan, sebagai terapi untuk penyakit tertentu. Musik juga berpengaruh banyak pada kondisi perpolitikan di suatu negara. 

Musik dapat berperan sebagai media terapi dan meditasi bagi beberapa orang.
Selain memainkannya, bagi saya hal lain yang tak kalah menyenangkan adalah dengan membahas dan membicarakannya. Saya selalu teringat dengan ucapan teman saya Rahmat, seorang jurnalis musik dan juga Teman Pencerita di Kedai Buku Jenny, bahwa kurang lebih seperti ini; dewasa ini musik tidak lagi harus selalu dibayangkan sebagai sesuatu yang harus dinikmati melalui indera pendengaran. Ya, bisa melalui tulisan-tulisan tentang musik entah mengenai sejarah bandnya, kelirikan ataupun hal-hal lain yang tidak serta-merta dapat ditangkap begitu saja ketika mendengarkan sebuah karya musik. Sederhananya, saya ingin membuat musik bisa dibaca.

Bagi saya sendiri musik adalah soundtrack kehidupan bagi musisi ataupun pendengarnya. Ini sejalan dengan apa yang digambarkan oleh Kak Bob pada pertemuan bertajuk ‘Album Minggu Kita’ di Kedai Buku Jenny, Sabtu, 9 Februari 2019. Album Morfem yang bertajuk Indonesia bagi Kak Bob adalah “soundtrack yang pas ketika sedang berada di Jogja. Lagu wahana jalan tikus, tidur di mana pun bermimpi kapan pun adalah nomor-nomor cantik yang selalu berhasil membawanya pada masa-masa itu.” Saya bisa membayangkan bagaimana ia hidup di sana sebagai perantau yang merasa serba jauh dari segala hal yang seharusnya ia bisa temui kapan pun, kampung halaman dan orang-orang tercinta misalnya. Namun Morfem selalu hadir sebagai obat bagi segala kejenuhan dan kepenatannya.

Album Minggu Kita sendiri ialah sebuah program di Kedai Buku Jenny yang baru dilaksanakan dua kali (seharusnya diagendakan secara rutin. Hehehe) dengan syarat membawa rilisan fisik yang kau punya dalam bentuk compact disc ataupun kaset tape. Di sana kita akan membicarakan apa saja tentang album tersebut. Malam itu  saya menceritakan tentang album Rust In Peace-nya Megadeth. Bagi saya album itu adalah titik awal dimana saya mencintai dan memandang seperti apa itu musik metal secara teknis. Selain karena beberapa lagu dalam album itu selalu masuk dalam list yang harus kami mainkan bersama band kesayangan, juga karena komposisi dalam album itu begitu menakjubkan, setidaknya menurut saya. Riff-riff gitar dan bass yang apik nan menguras otak dan stamina ketika dimainkan. Album ini menceritakan banyak hal mulai dari perang, politik, sosial, agama dan cinta. Album ini adalah masterpiece-nya mereka berisi sembilan lagu yang dimana kesemuanya saya suka namun hanya beberapa track yang menjadi kecendrungan untuk saya dengar antara lain Tornado of Soul, Hangar18, Holy Wars.... Punishment Due dan Lucretia.

Meski malam itu orang yang datang kurang banyak, itu tidak menjadi alasan kurangnya cerita-cerita menarik dan info tentang musik. Saya mendapat banyak sekali pengetahuan dan sudut pandang baru tentang bagaimana sebuah karya musik mempengaruhi orang lain. Mulai dari band keren yang beraliran atmospheric black-metal Vallendusk yang diceritakan oleh Awan, seorang Teman Pencerita yang sebentar lagi akan menjadi ayah, katanya. Hehehe, selamat. Dia menceritakan beberapa album dan nampaknya sudah mengikuti band itu sejak lama, terbukti dengan kedekatannya dia dengan band itu serta koleksinya yang tak hanya satu dua album saja. Dia juga sempat menceritakan kesenangannya akhir-akhir ini terhadap musik-musik lawas yang salah satunya adalah Fariz RM album Sakura. Dan lagi-lagi saya menyesal karena baru saat itu juga tahu tentang city-pop yang ternyata telah eksis di negeri ini sejak dulu. Jadi, kawan Awan ini adalah penikmat musik sejati menurut saya dan terbukti dengan kesenangannya yang tidak hanya dengan satu genre musik saja.

Musik juga bisa menjadi kendaraan menuju kemana saja. Bisa menuju masa lalu atau ke masa depan, tergantung bagaimana musik yang sedang kita dengarkan itu membawa nuansanya. Angsa dan Serigala dengan album self-tittled yang dirilis pada tahun 2012 itu misalnya. Album itu menurut Kak Nita adalah “sebuah kendaraan dimana ketika dia mendengarnya, akan membayangkan Maha dan Suar ketika besar nanti harus berjalan jauh dan melewati hari-harinya sendiri.” Betapa album tersebut sangat monumental bagi Kak Nita terbukti bagaimana dia berkaca-kaca dan terbawa haru menceritakannya ketika tiba di track Kala Langit Telah Senja yang juga merupakan track favoritku di album ini. Saya ingat bagaimana lagu ini dulu pernah begitu setia menemaniku pada masa-masa tugas akhir perkuliahan dengan segala permasalahannya yang ada-ada saja.

Saya mendengarkan Lynyrd Skynyrd ketika menulis ini, sebuah band bergenre southern-rock, blues-rock, hard-rock asal Jacksonville USA yang pernah mencapai puncak kejayaannya pada tahu 1970-an. Asap rokok yang mengepul dengan suasana bising warkop, headphone di kepala dan kopi-susu yang kemanisan adalah pelengkap suasana rock&roll ketika saya merangkai tulisan ini, setidaknya seperti itu yang saya rasakan, hehehe. Tiba pada lagu Free Bird, volume kukencangkan karena bagian terbaik dari lagu ini adalah pada part akhir ketika solo gitar Allen Collins meraung-raung seperti orang kesetanan memainkan nada-nada pentatonic nan bluesy. Oh ya, barangkali kurang lebih seperti itu yang dirasakan oleh Ratu, seorang Teman Pencerita, ketika mendengar lagu-lagu Fourtwnty, meski bentuknya agak berbeda dari apa yang bisa kurasakan. 

Jadi, Ratu adalah salah satu dari sekian banyak pecinta lagu Zona Nyaman, menurut dia lagu itu adalah “teman ketika kepenatan sedang melanda.” Nah, memang ada banyak alasan mengapa sebuah lagu begitu sangat disukai, mulai dari Amy, seorang Teman Pencerita, yang menyukai Kunto Aji karena liriknya, Suar yang menyukai lagu Menanam dari Kapal Udara karena spirit menanam yang dibawa lagu itu sesuai dengan kesenangannya dengan kegiatan menanam.  Kak Buca yang senang mendengar Kinoko Tekoku untuk menemani tidurnya agar lebih nyenyak, bahkan malah susah tidur jika tidak mendengar lagu itu. Kinoko Tekoku adalah band dari Jepang yang beraliran post-rock juga shoegaze dengan isian vocal wanita yang anggun dan bersuara merdu khas wanita Jepang. “Kamu tidak akan menyesal ketika mendengar band ini.” katanya.

Banyak sekali yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini, namun hanya beberapa saja yang bisa saya ingat kembali, sebuah kesialan memang, masih muda sudah pikun. Namun, terkadang dalam keadaan seperti ini musik sanggup membawa pulang yang telah usang. Itulah mengapa saya selalu menyetel playlist ketika hendak melakukan sesuatu. Contohnya bepergian. Doddy, seorang Teman Pencerita, yang malam itu menceritakan kesenangannya dengan lagu khas Amerika yang katanya “bernuansa keseharian kaum hyppies, hidup vegan dengan hanya kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka.” Bagi saya itu terkesan seperti lagu perjalanan dengan mobil van di sepanjang jalan kawasan Texas, Amerika. Seperti yang selalu digambarkan dalam film-film koboi. Sebutlah musiknya sekilas terdengar seperti country, psychedelic yang membuat saya melayang ketika menyimaknya lebih jauh bersama whisky, hahaha.

Musik memang bisa menjadi alarm kenangan bagi siapa pun. Tidak ada salahnya menyertakan musik dalam segala aktifitas. Otak manusia juga kan terbatas ruang penyimpanannya. Kadang, sebuah hal penting tiba-tiba berada diantrian paling belakang ingatan kita, itulah mengapa ada yang disebut dengan lupa. Musik adalah sesuatu yang bisa mengembalikannya. Musik bisa merefresh memori yang usang, memperbaiki mood, menambah semangat dan juga tentunya kadang bisa membuat dua sejoli yang sedang marahan rujuk kembali. Atau bahkan seorang yang sakit badaniah ataupun rohaniah bisa sembuh karena mendengar musik tertentu. Jadi, harapan saya mengenai ‘Album Minggu Kita’ di Kedai Buku Jenny hanya satu, semoga rutin dilakukan dan pesertanya pun semakin banyak, agar kita bisa mendapat banyak pengetahuan baru mengenai segala hal tentang musik. Dan pesan saya di akhir tulisan ini; jika kamu belum sanggup membuat musik, maka jadilah seseorang yang layak untuk dimusikkan.

Selasa, 12 Februari 2019

Jogja Noise Bombing: From The Street To The Stage


Oleh Rahmat Maulana / Teman Pencerita


Di tengah bisingnya perdebatan perihal apakah noise itu musik atau bukan, Jogja Noise Bombing semakin meluaskan invasi kebisingannya. Dari yang awalnya hanya berupa pertunjukan noise ilegal di jalan-jalan, kini telah menjadisebuah pertunjukan noise besar yang dihadiri pegiat noise dari berbagai negara.Entah apa lagi selanjutnya.

Buku “JogjaNoise Bombing” ini adalah dokumentasi helatan Jogja Noise Bombing yang ditulis oleh Indra Menus (Jogja) dan Sean Stellfox (Amerika)yang diterbitkan dalam bentuk billingualbook. Hal ini merupakan sebuah langkah besar yang mereka lakukan dalam mendokumentasikan skenanya. Tidak banyak skenester di Indonesia yang bisa mendokumentasikan skenanya sebaik JogjaNoise Bombing.

Membaca Jogja Noise Bombing seakan membawa kita mundur beberapa tahun ke belakang menyaksikan mereka yang pada mulanya melakukannoisebombing ilegal di ruang-ruang publik lalu membawa kita kembali maju beberapa tahun kedepandan membayangkan akan seperti apa JogjaNoise Bombing atau JNB ini selanjutnya. Selain itu kita juga akan dibawa menyaksikan JNB dari berbagai sudut pandang, mulai dari pelaku noiselokal Jogja, daerah-daerah lain di Indonesia hingga dari sudut pandang pelaku noise dari berbagai negara yang telah merasakan atmosfir kebisingan selama persinggungan mereka dengan JNB.

Semua kebisingan ini bermula dari proses ekperimental awal mereka untuk menampilkan musik eksperimental itu sendiri dalam bentuk noisebombing. Noisebombing sendiri merupakan praktik pertunjukan noise ilegal yang dibuat secara sederhana dengan menggunakan amplifierkecil dan beberapa peralatan lainnya yang bisa di angkut menggunakan sepeda motor untuk kemudian dibawa berkeliling ke ruang publik yang memiliki sumber listrik yang dapat mereka gunakan dalam pertunjukan mereka. Setelah menemukan tempat yang pas, mereka akan mulai mempersiapkan set sederhana yang mereka bawa lalu bernoise ria hingga satpam atau preman setempat mengusir dan mereka akan kembali berkeliling mencari lokasi noisebombing selanjutnya.

Hal lain yang menarik dalam penyelenggaraan JogjaNoise Bombing adalah proses kolaboratifnya. Mereka akan mencoba mengkolaborasikan dua pelaku noise yang belum pernah melakukan proses kolaborasi sebelumnya. Dengan konsep ini mereka mendorong dua musisi untuk melakukan diskusi perihal kinerja masing-masing dan selanjutnya mulai berkolaborasi dan menciptakan bebunyian-bebunyian yang unik dalam JNB. Melalui konsep ini juga mereka meyakini bahwa akan lahir koneksi-koneksi yang kuat antar pelaku noise yang diharapkan dapat melahirkan hal-hal baru setelah festival ini, baik berupa album atau pun tur bersama.


Dalam proses gerilya kota yang di lakukan JNB, semangat doityourself juga menjadi hal yang paling terasa, mulai dari proses memulai noisebombing, set DIY seperti synthesizer buatan seniman lokal dan juga pembagian peran dalam pelaksanaan kegiatannya sehingga roots punk atau underground juga seakan dihadirkan dalam JNB.
Lanskap kota Jogja sebagai lokasi mereka berkegiatan juga merupakan salah satu nilai lebih yang mereka miliki sehingga proses noisebombing jalanan hingga festival seperti Jogja Noise Bombing dapat terlaksana hingga saat ini. Secara demografi, Jogja juga dikenal sebagai salah satu pusat seni dan budaya di Indonesia sehingga tingkat toleransi masyarakatnya terhadap hal-hal baru dan tak terduga juga lebih besar sehingga noise dapat lebih cepat diterima di kota ini. Dan yang paling penting, yang membesarkan JNB adalah ikatan yang kuat antar pelaku noisenya sendiri, paling tidak itu yang diungkapkan banyak pihak dalam buku ini.
Namun dari sudut pandang pembaca seperti saya, pemilihan narasi pada Bab 3: Meet the Jogja Noise Bombers yang berupa kumpulan interview dengan banyak pelaku noise di Jogja serasa cukup membosankan pembaca dikarenakan pertanyaan yang seragam pada banyaknya pelaku noise yang diinterview menimbulkan banyak perulangan walau menggunakan cara penuturan yang berbeda-beda.
Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, JNB merupakan kolektif yang sedang tumbuh dan akan terus tumbuh hingga beberapa tahun ke depan. seperti yang dikatakan Soni Triantoro (WarningMagz) JNB sebagai budaya popular mengacu pada gagasan neo-Gramscia nadalah medan pertarungan budaya subbordinat dan budaya dominan yang akan saling bergantian dan berebut ruang. Setelah grunge, pop punk, nu metal, indierock, emo, EDM, siapa tahu giliran berikutnya yang akan mendapatkan atensi lebih dari masyarakat adalah noise? Namun paling tidak, dengan terbitnya buku ini, kebisingan dari JogjaNoise Bombing telah menginvasi dimensi yang baru dan berbeda; buku/tulisan.


 
CC 2013 KEDAI BUKU JENNY BAHAGIA ITU SEDERHANA!