Minggu, 17 Desember 2017

3 hari bersama Gaspar


Menjadi pemenang unggulan dalam sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta, dan diulas di banyak timeline di media sosial, Gaspar menjadi salah satu novel yang laris di kedai kami. Seingatku kami merestock buku ini hingga 5 kali, dan masih sering dicari hingga sekarang. Ketenaran Gaspar, tidak membuat saya serta merta langsung melahapnya, mengamankannya untuk koleksi perpustakaan iya. Saya butuh hampir 3 bulan untuk berkeinginan membacanya.
Yah, rupanya saya membutuhkan pandangan subjektif tentang buku ini, karena membacanya kali pertama, saya kewalahan membangun imajinasi untuk nama, tempat dan cerita yang dibangun Sabda Armandio, si penulis. Saat membacanya kali pertama, saya selalu membayangkan cerita ini terjadi di negara-negara kecil pecahan uni Soviet sana. Ketika bangunan-bangunan imajinasi mulai saya rancang rapih, ceritanya tiba-tiba membentur ruang-ruang nyata di kota-kota besar di Indonesia yang pernah saya lihat. Jakarta, Bandung, misalnya . Dan sekali lagi, karenanya,  saya kewalahan. Sampai 3, 5 orang pengunjung KBJ yang sudah membeli dan membacanya menyatakan  “bagus,k”, “ceritany aneh tapi menarik, k”, atau “astagaaa, bacaki K” langsung pada saya dengan mimic muka yang susah saya tebak. Tepatnya misterius. Buku ini menyisakan raut-raut pertanyaan pada beberapa pembacanya yang kebetulan saya kenal dan saya tanyai akannya. Untuk itu, saya bertekad membacanya lagi.
Dengan tekad itu, saya mulai membaca kembali buku ini tanpa harapan apa-apa atau mencoba membangun imajinasi lewat cerita-cerita yang dimunculkan. Tidak saya sangka itu berhasil.  Saya mulai masuk dan perlahan mulai terlibat dalam petualangan Gaspar.  Mengenal Gaspar, saya membayangkann dia seorang bad boy yang mungkin akan membuat saya tertarik. Dia cerdas, berani, ceplas-ceplos, kaya, amburadul, lahir dari keluarga broken home. Namun dia pemimpin yang didengar, berpengaruh dan yang paling utama dia peduli. Dalam cerita 24 jamnya, Gaspar menelanjangi dirinya pada 5 teman barunya dan pada saya. Ia selalu punya jawaban atas tiap pertanyaan orang-orang di sekitarnya, saya yakin dia teman bicara yang menyenangkan. Dia pandai berkilah, punya pengetahuan sejarah yang mumpuni, punya  pandangan politik yang mencerahkan.
Misi Gaspar dalam 24 jam itu adalah mencuri kotak hitam atau kotak ungu, yang telah menjadi obsesi besarnya sejak umur belasan, dan ia lihat di sebuah toko Emas milik Wan Ali. Di dalam muwujudkan rencananya,  ia melibatkan orang-orang yang baru ditemuinya, seorang Nenek tua dan anaknya, yang, seorang perempuan muda, sahabat dan pacar sahabatnya yang dulu pacaranya. Gaspar lihai meyakinkan bahwa tujuannya malam itu, bukanlah tujuan pribadinya semata, melainkan akan menjadi tujuan mereka juga. Mencuri kotak hitam bukanlah tentang uang semata, tapi tentang membuka rahasia dunia yang penuh kejahatan. Begitu yakinnya.
Ide cerita yang muncul di Gaspar menurut saya biasa-biasa saja, yang menakjubkan adalah cara penulis mengeksplorasi momen-momen yang dilewati selama 24 jam itu. Saya suka semua jenis pembicaraan dalam kisah kisah ini termasuk banyolan-banyolan yang menggelitik, saya suka bagaimana Gaspar memilih nama-nama nyentrik untuk teman-temannya, saya suka teman-teman Gaspar yang tidak pernah meyakini kegilaan Gaspar, saya suka Gaspar memperlakukan Cortazar dengan bebas, saya suka Yadi/Pongo yang takluk pada istrinya, saya suka Kik dan Njet yang bebas berhubungan walau ada bayi Gaspar di perut Kik, saya suka bu Yati/Pingi yang tidak berhenti menaruh harapan pada suami, saya suka Angel yang tidak pernah takut menghadapi dirinya yang berbeda, saya suka Budi Alazon yang tergila-gila pada Gaspar, saya suka Wan Ali yang menyembunyikan ketengikannya di bawah nama kebaikan. Satu satunya karakter yang tidak saya suka adalah si detektif, dan menariknya dalam imajinasiku, dia juga satu-satunya tokoh dalam buku ini yang punya IQ dangkal. 
Karena karakter-karakter itu, cerita yang disuguhkan Sabda Armandio menurutku “penuh” (saya belum menemukan kata yang tepat) sampai saya kesulitan mendapatkan ruang untuk mencerna analogi-analogi yang dihadirkan lewat percakapan-percakapan antar tokohnya. Mulai dari hal hal kecil yang nyata yang terjadi di sekitar kita, cerita jaman prasejarah, absurditas beragama, dongeng dongeng masa depan, dan kisah-kisah mitos yang tidak bisa kita pastikan kenyataannya. Namun, saya menikmatinya. Seperti menikmati hentakan-hentakan musik nya Myxomata yang tidak tertebak ke mana arahnya. Dan yang penting, walau alur cerita yang dibangun tumpang tindih karena menyajikan dua settingan tempat dan waktu yang berbeda, saya memahami jalannya cerita dan secara perlahan mampu mengkoneksikan satu kisah dengan kisah lainnya yang tetiba bertemu di satu titik. Dan itu jenius, menurut saya. dan, mungkin karena alasan itulah, Sabda menyatakan bahwa cerita ini adalah cerita detektif. Jika kamu mengharap ada fakta-fakta baru dibalik hipotesis atau kemungkianan atau mitos yang biasanya diramu apik dalam cerita detektif, kau tidak mendapatkannya di sini. Atau berharap ada rumusan, istilah, nama-nama ilmiah yang diselidiki, yang juga sering kali muncul dalam cerita detektif, pun tidak ada di buku ini. Tapi, secara keseluruhan, Gaspar menyuguhkan cerita pencarian.  Tentang pertanyaan pertanyaan kecil dan besar, dan tentang kematian seseorang yang saya duga Gaspar.
Saya suka semua bagian-bagian yang saya anggap tak masuk akal dalam cerita ini. Saya suka Gaspar. 24 jamnya yang adalah 3 hari saya, yang saya jumpai disela-sela rutinitas adalah perkenalan yang tak boleh saya lupakan.
Desember, 16th 2017  
Harnita Rahman      

Kamis, 30 November 2017

Menemukan Eva

Memutuskan membaca novel ini satu hari sebelum ulang tahun ke 33, menurut saya sebuah keputusan yang salah. Setelah menghabiskannya dalam sehari, Eva beserta semesta hidupnya menghempaskan saya dengan keras  pada perjalanan panjang yang saya lalui.  

Yah, ini bukan novel biasa, Eva bahkan bukan perempuan biasa. Lahir dari rahim seorang pekerja seks dan ayah seorang seniman kaya pecandu narkoba adalah guratan takdir yang tak bisa ia pilih. Kebingungan, kemarahan, ketidaktahuan dan kejijikannya terhadap muasal dirinya, membuat Eva dengan berani menggariskan hidupnya sendiri pasca tamat SMA, menuju kehidupan kampus bermodalkan kerja paruh waktu dan beasiswa negara.  Perguruan tinggi mempertemukan Eva dengan realitas baru, ia menyaksikan ketimpangan kecurangan kemasabodohan dalam waktu bersamaan sekaligus. Alih-alih mendapatkan jawaban atas tanya dalam dirinya, Eva menemukan tanya dan jawaban baru pasal struktur berwarganegara yang diuatakatik  dan agama yang dimanipulasi.  Basis pengetahuannya yang memadai saat mahasiswa, meluruskan jalan Eva menjadi seorang reporter. Kecurigaan dan pandangannya yang visioner untuk setiap liputan yang ia wartakan menjadikannya figure cemerlang di tempat kerja. Eva berhasil menunjukkan kemilau cahayanya di usia yang masih muda, dan punya Mada pula,  pacarnya, seorang mahasiswa Seni Rupa, yang bersamanya menjalani hubungan jauh dari ke-lebay-an anak muda jaman now. Namun, di tengah kegemilangan prestasinya, Eva  tidak menakar kemampuannya menerima kenyataan kenyataan pahit yang memburunya bersamaan dengan pencarian menyeluruh terhadap dirinya sebagai seorang manusia. Menemui perselingkuhan pacarnya, kebobrokan sistem kerja di tempat kerjanya, kebusukan pemerintahan di negaranya, Eva bergumul hebat dengan ide-ide falsafah keadannya lalu akhirnya memutuskan untuk menjadi tiada.

Apa yang membuat Eva menjadi istimewa atau tidak biasa? Di awal membacanya, di bab pembukaan yang pendek, saya bahkan bergumam kalau saya salah pilih bacaan kali ini. Eva yang muncul dengan raungan atas kacau balau hidupnya mengingatkan saya dengan kisah perempuan di  Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur nya Muhidin M Dahlan. Setelah membeli buku itu 2 kali dan hilang dua kali pula, kami sampai pada kesimpulan bahwa  tokoh itu terlalu dangkal berpikir ketika memutuskan menjadi pelacur sebagai jawaban atas peliknya aturan agama yang mengikatnya kala itu. Pikir saya, Eva mungkin sama tidak cerdasnya dengan tokoh itu, karena membaca plot awal,  saya sudah bisa menebak bahwa Eva akan bunuh diri. Walau begitu, saya tetap melanjutkan kisahnya.

Alasan saya sangat simbolik. Saya penasaran dengan judul setiap bab yang menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti dan setiap bab itu diwakili oleh symbol yang sering saya lihat dan saya bahkan tidak tahu itu adalah symbol yang menandakan sesuatu. Cilakanya, saat itu hingga sekarang saya tidak terkoneksi dengan internet sehingga tidak ada daya saya selain membacanya lebih lanjut daripada berkubang penasaran. Dan saya tidak menyesal, di bab ketiga dan seterusnya, Rhy Husaini, penulisnya memperlihatkan penyajian cerita yang berbeda. Pergulatan demi pergulatan ide disajikan dengan ciamik. Mulai isu korupsi di lembaga Pendidikan Tinggi, pertarungan ide Marxis untuk direlevansikan di Indonesia,tentang kegagalan kaderisasi di lembaga-lembaga kemahasiswaan baik internal maupun ekesternal kampus, tentang falsafah muasal manusia dan ketunggalan Tuhan yang dikawinkan secara brillian dengan kisah-kisah babad tanah Jawa yang asing namun menjadi masuk akal di kepala saya. Bab selanjutnya, Rhy menyentuh sakralitas beragama. Dan dia sama sekali tidak memilih berhati-hati.

Biasanya jika buku itu ditulis oleh penulis yang tidak saya kenal, saya akan menunggu setelah karyanya habis saya baca, lalu menelisik penulisnya demi  alasan subjektivitas. Tapi, karena penasaran lagi, saya mengintip si Rhy Husaini ini. Dia masih mahasiswa ternyata. Saya ingat, untuk “22 –(Mu)” di halaman depan bukunya bisa saja adalah umurnya sekarang. Sungguh, saya tidak membayangkan karya ini lahir dari seorang mahasiswa yang terpaut 11 tahun di bawah saya. Ia memilih tutur bahasa yang sangat berani, cenderung ugal-ugalan tapi sesekali putis. Ia menuturkan  ide-ide yang tidak pop untuk diangkat dalam novel dan  sekali lagi, itu pilihan yang berani. Saya makin penasaran dengan buku apa yang ia konsumsi sejak kecil.  

Alur mundur konsisten dipilih Rhy untuk mengemas kisah Eva dan sama sekali tidak membosankan. Walau banyak kajian ilmiah yang ia paparkan secara langsung dan tidak langsung, novel ini tidak meninggalkan khittahnya sebagai karya sastra. Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik penulis pun dalam banyak plot menurutku tidak ia biarkan sebagai ruang untuk menggurui pembacanya.  Yang sedikit mengganggu saya adalah kehadiran cerita feodalisme dalam dunia kerja dalam hal ini pramugari yang muncul lewat sosok G, sahabat si Eva. Walau sebenarnya yang ia paparkan fakta menarik, namun kisah ini tidak mengutuh dalam cerita, terkesan dipaksakan.

Namun, yang paling bikin saya tidak bisa berhenti membaca buku ini adalah simbol-simbol yang saya sebutkan di awal tadi. Simbol ini dijelaskan di bab sebelum akhir tulisan yang menjelaskan dirinya sejak 270 hari sebelum memutuskan bunuh diri. Walau begitu, saya belum mengerti sepenuhnya. Fakta untuk smbol tersebut, harusnya ada di tulisan ini, jika saja paket dataku sudah aktif. Tapi memupuk penasaran itu penting, ia akan membawamu pada haus yang tak berkesudahan.

Sebelum menutup, ada dua hal  lagi yang menarik. Pertama, Eva membeberkan fakta kekinian Jogja yang sedang menuju pembangunan skala besar berkiblat pada modernisasi a la kapitalisme lewat pertemuannya dengan Mas Dodok penggagas gerakan “Jogja Ora Didol”, bisa jadi wawancara ini fakta. Dan yang kedua, Si Eva dan temannya G sempat nonton konser akustiknya Jenny (sebelum berubah menjadi FSTVLST) dan mendengarkan Mati Muda yang dilantunkan bersama Frau. Kalau kalian dengar via youtube, menurut saya sekali lagi bisa jadi, lagu itu lah yang menguatkan Eva untuk bunuh diri di usia muda. “Hidup tidak perlu terlalu lama jika dosa yang berkuasa. Jika harus mati, maka matilah.”   

Dan akhirnya, kalian mahasiswa dan anak anak muda harus membaca novel ini. Ada realitas yang mungkin, ada fakta yang juga terjadi di depan mata kita, ada pergulatan intelektual, ada diskursus, ada kuliah umum, dan ada Jenny di buku ini. Setelah membaca, kalian mungkin akan mengangguk setuju atau marah memaki karena tidak sepaham. Begitulah karya, ia harus dibicarakan. Sayangnya, buku ini sudah Sold Out di Kedai Buku Jenny, jadi selamat berburu.   

Mengakhiri November yang manis dan basah

Harnita Rahman

Selasa, 21 November 2017

Menjumpai Kebahagiaan Sederhana di Creative Camp 2017


Pertengahan minggu kemarin, tetiba KBJ dapat todongan yang seyogyanya telah ditunggu-tunggu. Ippang,  seorang kawan dari Pakopi, ringkas, padat dan jelas mengajak kami  untuk ikut dalam event yang ia dan teman-temannya gagas dan dihelat kedua kalinya tahun ini. Ajakan serupa yang tidak bisa kami iyakan tahun lalu. Seingat kami, perkara cuaca menjadi kendalanya saat itu. Tanpa berpikir terlalu panjang, kami berkata iya, alasannya sederhana, kami agak sungkan menolak orang untuk kedua kalinya dan sepertinya setelah melelui Oktober dan pertengahan November yang agak hectic, kami berhak mendapat satu dua hari liburan.

Kami sekeluarga menyambut antusias Sabtu kali ini walau sebenarnya setiap akhir minggu kami selalu bersemangat. Maha dan Suar sudah kelihatan tidak sabar, bolak balik ke teras menunggu mobil yang berencana membawa kami ke Bulukumba. Jam 10an lewat, mobil Escudo hitam sudah terparkir di  depan KBJ. Ada Achir, teman dari Sipulung Carita, yang sudah siap mengantar kami sampai di tujuan. 

Kami meninggalkan Makassar, hampir pukul 12, setelah menjemput Om Has yang juga akan menunjukkan karyanya di sana. Perjalanan lancar nyaris tanpa hambatan. Maha tidak seperti biasanya, kali ini dia menikmati perjalanan, tertawa, bercerita dan bermain  bersama Suar. Dan Suar seperti biasa menghabiskan hampir lima jam perjalanan tanpa lelah sama sekali, baik badan maupun mulutnya. Ada ada saja yang bisa dia ceritakan.



Dan, setelah melalui perjalanan panjang yang diujungnya agak menegangkan karena jalan curam, berbatu, berliku dalama arti yang sebenarnya, senyum lebar tersungging saat melihat hamparan laut biru dan pasir putih yang menggoda kami untuk segera bersamanya. Ini kali pertama, saya pribadi tiba di pantai tanpa mengerutkan kening, entah itu karena terlampau panas atau kotor dan alasan-alasan lain. Tapi, kali ini kami tiba di waktu yang tepat. Matahari bersembunyi rapat di balik awan kelabu. Teman-teman yang telah lebih dahulu datang melakukan aktivitasnya masing-masing, menikmati pantai, mempreteli kendaraannya, memburu foto, mendirikan tenda, dan check sound untuk pentas di malam hari.

Dan kami, tanpa babibu langsung menyerbu laut. Perjalanan hampir lima jam serasa dibayar lunas. Maha dan Suar pun tampak girang. Kami berada di salah satu pantai di Kabupaten Bulukumba, Mandalaria. Walau titiknya sudah bisa di temukan via google map, tapi tempat ini menurut cerita Achir, masih jarang disambangi pelancong. Mereka bahkan menemukannya  karena tersesat saat mencari pantai Appalarang di tempat yang tidak jauh dari situ. Aksesnya yang lumayan sulit, menurut saya juga salah satu alasan kenapa pantai ini tidak ramai dibicarakan. Bisa jadi, ini sebuah berkah. Bukan rahasia lagi, bagaiamana alam yang keindahannya eksotis kerap berubah tidak alami karena terlalu banyak sumbangsih buruk manusia. 




Pantai ini terletak di Desa Ara, adalah desa dimana perahu-perahu Pinisi dibuat. Hutan yang kami lewati sebelum pantai adalah pemasok kayu-kayu untuk perahu pinisi. Kami memang disambut pengerjaan 3 perahu Pinisi di bantaran pantai. Ada villa besar dengan sekitar 4 kamar dengan fasilitas yang sangat keren berdiri kokoh di sana. Dan pemiliknya, bukanlah warga Indonesia. Dengan biaya minimal 4 juta semalam, rumah dan segala fasilitasnya bisa digunakan. Untuk biaya yang lebih kecil, ada villa yang juga jauh lebih imut berdiri tidak jauh di sampingnya, dan semua akses untuk dua tempat tersebut bisa didapatkan lewat ibu penjaga warung yang mendirikan warung kecil di sana. 

Nah, di halaman villa besar inilah, Creative Camp 2017 digelar, halaman yang luas lengkap dengan rumah pohon dan ayunan yang cantik, memadai untuk gelaran yang masih saya raba-raba sejak kali pertama tiba. Magrib menjelang, aktivitas di sekitar pantai mulai berpindah ke Camp, tenda berjejer rapi, di tengah  ada palet-palet kecil membentuk panggung dengan sound system sederhana, motor dan mobil terparkir sesuai genrenya. Tidak banyak orang yang hadir, tepatnya kurang dari 100an orang, namun menurut kami suasananya menjadi sangat hangat. Dan tidak seperti biasa, kami menjumpai orang-orang baru yang memungkinkan kami menjejal banyak jejaring dan kesempatan baru.

Creative Camp sendiri adalah program tahunan yang tahun ini telah menginjak tahun kedua pelaksanaannya. Event tahunan ini diinisiasi oleh Komunitas Sipulung Carita, sebuah komunitas yang berbasis di Makassar dan intens menggelar kegiatan yang memadukan unsur sosial, seni dan entrepreneur.

Saat malam mulai merangkak, panitia mengabarkan kalau diskusinya akan digelar. Saya baru ngeh saat acaranya berlangsung. Jadi, Creative Camp tahun ini meng cover hobi dan minat sebagai jalan merintis bisnis. Ada teman-teman yang bicara tentang bisnisi fotografi, ada yang bicara tentang website dan kami bicara tentang bisnis literasi. Temanya sangat baru, namun menarik untuk dibahas.  Bincang bincangnya dikemas santai dan intim, dilaksanakan bersamaan di beberapa titik. K’ Bob selanjutnya saya secara bergantian, langsung membuka dapur KBJ, tidak tanggung-tanggung.  Bercerita bahwa ketertarikan kami pada buku dan musik “menceburkan” kami secara sadar ke dalam bisnis ini. Kalau bercermin dari pengalaman KBJ, bisnis ini bisa jadi tidak menjajikan secara meteri tapi menjanjikan ragam capaian-capaian yang jauh lebih kaya dari nominal-nominal. Walau begitu, dalam hitungan ekonomis, kami tidak lagi dirugikan. KBJ setidaknya mampu membiayai operasionalnya sendiri hingga menggelar helatan-helatan kecil tiap bulan. Bincangnya berjalan  mengalir serupa curhatan pegiat bisnis rumahan. Dan kami sangat menikmatinya.

Diskusi Bisnis Literasi (Tim Dokumentasi Sipulung Carita)
Sesi kami berakhir setelah hampir 120 menit. Panggung mulai berbunyi, dan musik mulai bermain. Ada duo folk yang digawangi oleh Nanda dan Komang yang mereka namai Akar Beton, membuka malam yang panjang. Mereka membawakan 4 nomor lagu yang mengantar kami menuju malam yang syahdu. 

Akar Beton (Foto oleh Anita)
Setelahnya, dengan jeda yang lumayan panjang Om Has beraksi. Dia tampil solo dengan gitar akustik membawakan lagu-lagunya bernuansa folk dengan suara berat. Penampilan Om Has dibuka dengan dua lagu milik Naif dan berikutnya berturut-turut empat lagu gubahan sendiri yang kesemuanya diilhami dari pengalaman Om Has ketika bersama beberapa kawannya berlayar dengan Perahu Sandeq dan angin barat daya yang tersohor ganas itu membuat mereka terdampar di sebuah pulau antara Takalar dan Jeneponto. Cerita tentang keempat lagu itu dibagikan Om Hasketika sesi diskusi yang kami bawakan berakhir. Selain cerita dibalik lagu yang menarik dan menggugah, suara Om Has memang tak biasa. Kalau ada sayembara untuk mengisi posisi vokalis Payung Teduh yang baru saja ditinggalkan Is, maka saya akan merekomendasikan nama Om Has di deretan pertama.

Om Has (Tim Dokumentasi Sipulung Carita)
Setelah penampilan Om Has yang menggenapi semilir angin pantai malam itu, dilanjutkan dengan penampilan Project Ex yang berformat band. Project Ex membawakan beberapa lagu milik Cold Play yang cukup terkenal sehingga penonton dapat dengan mudah menyanyi bersama sepanjang penampilan mereka. 

(Foto oleh Anita)
(Foto oleh Anita)
Setelah Project Ex, kami mengarahkan perhatian ke sebelah kanan panggung, tepatnya ke layar putih yang telah disiapkan panitia untuk sesi pemutaran film pendek. Seperti tahun sebelumnya, Creative Camp tahun ini juga mengajak teman-teman dari Imitation Film Project yang selama ini bergelut di ranah film independen untuk terlibat. Mereka membawa 6 film pendek untuk diputar. Keenam film dengan berbagai genre yang diputar malam itu  merupakan produksi teman-teman sineas muda Makassar yang sekarang sedang giat-giatnya bersuara melalui karya film dan beberapa diantara film tersebut bahkan mendapat apresiasi luar biasa hingga di ranah mancanegara.

Sesi pemutaran film pendek malam itu kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai film-film yang diputar malam itu oleh Fera, adam dan Arya dari Imitation Film Project. Selain bercerita mengenai latar belakang beberapa karya milik Imitation Film Project yang diputar, mereka juga menjelaskan bagaimana geliat sineas muda Makassar yang terus berupaya menghadirkan ruang tontonan alternatif yang memungkinkan keterlibatan siapa saja.


Diskusi bersama Imitation Film Project (Foto oleh Anita)
Meski malam sudah begitu tua, namun panggung belum berhenti. Selanjutnya ada project duo bernama Secangkir Berdua yang diisi Arya di biola dan Aldi di gitar. Penampilan Secangkir Berdua lalu dilanjutkan dengan berbagai penampilan yang melibatkan teman-teman yang lain di sesi acara bebas. 


Secangkir Berdua (Foto oleh Anita)
Matahari datang dengan cepat, dan kami mencoba tidak melewatkannya. Namun, awan hitam memilih menetap di atas kami, namun tidak menghalangi kami mencicipi air laut pagi hari. Minggu pagi yang hampir sempurna namun harus segera kami tinggalkan. Kami pulang, dengan suntikan semangat baru, dari air laut, pasir putih, lagu yang baru kami dengar, film yang kami tonton, dan yang paling utama karena bertemu dengan nama-nama yang betul betul baru. Terima kasih teman Creative Camp, kami selalu bersyukur atas kesempatan-kesempatan yang kami dapatkan. Melalui KBJ, kami belajar bukan hanya tentang dapur yang tetap harus terus mengepul, tapi melampaui angka-angka yang tertulis di buku keuangan kami.

Makassar, 20 November 2017
Harnita Rahman    

Kamis, 14 Mei 2015

Malam Sajakkan Saja Vol. 9






































 
CC 2013 KEDAI BUKU JENNY BAHAGIA ITU SEDERHANA!