Penulis: Zulkhair "Bobhy" Burhan
Mendengar kabar jika FSTVLST akan manggung lagi di Makassar selalu menggembirakan. Tapi awal bulan lalu, saat mendapatkan kabar itu dari Rahmat yang saat itu masih sedang berada di Jogja dan akan segera menyelesaikan masa magangnya di Libstud, kegembiraan yang saya rasakan tak lagi seperti saat pertama mendengar kabar serupa di tahun 2015 saat FSTVLST akan manggung di Rock in Celebes. Saat itu kegembiraan yang saya rasakan dan tentu juga dirasakan kawan-kawan yang lain adalah serupa kegembiraan para pengantusias sebuah band yang akhirnya bisa menyaksikan langsung band idolanya. Tapi kali ini rasanya lebih dalam dari itu. Kegembiraan yang saya rasakan seperti saat hendak menyambangi keluarga yang telah lama tak bersua dan tak sabar menemui kenangan dan cerita-cerita masa lalu.
Dan pilihan saya lebih merapat ke kerumunan tak sia-sia. Disana saya bertemu sensasi-sensasi itu lagi. Yang sekelebat membawa saya sebentar ke panggung-panggung FSTVLST yang sering saya datangi dulu di Jogja.
![]() |
Foto : Muh. Ardha/ @muh.ardha |
Mendengar kabar jika FSTVLST akan manggung lagi di Makassar selalu menggembirakan. Tapi awal bulan lalu, saat mendapatkan kabar itu dari Rahmat yang saat itu masih sedang berada di Jogja dan akan segera menyelesaikan masa magangnya di Libstud, kegembiraan yang saya rasakan tak lagi seperti saat pertama mendengar kabar serupa di tahun 2015 saat FSTVLST akan manggung di Rock in Celebes. Saat itu kegembiraan yang saya rasakan dan tentu juga dirasakan kawan-kawan yang lain adalah serupa kegembiraan para pengantusias sebuah band yang akhirnya bisa menyaksikan langsung band idolanya. Tapi kali ini rasanya lebih dalam dari itu. Kegembiraan yang saya rasakan seperti saat hendak menyambangi keluarga yang telah lama tak bersua dan tak sabar menemui kenangan dan cerita-cerita masa lalu.
Dua hari sebelum panggung
FSTVLST, Rahmat kembali memberi kabar jika Jumat malam (6 Desember 2019)
FSTVLST dan para kru akan tiba di Makassar. Biasanya jika mendengar kabar
seperti itu saya akan langsung menghubungi maspak Farid Stevy untuk sekadar
memastikan info yang baru saya dengar. Tapi kali ini saya memilih untuk
membiarkan semua berjalan alamiah saja. Sambil berharap bahwa upayaku untuk
menemui kenangan dan cerita-cerita masa lalu dan sensasi saat mendatangi
panggung-panggung Jenny atau FSTVLST akan saya jumpai tanpa kontruksi yang
disengaja karena privilege ini itu.
Tiket masuk ke festival yang
menghadirkan FSTVLST sudah saya kantongi dengan bantuan seorang mahasiswa saya
yang juga rajin menyambangi konser-konser musik di kota ini dua hari sebelum
hari yang saya tunggu. Dan hari itu juga, seperti kabar dari Rahmat sebelumnya,
FSTVLST tiba di Makassar. Dan lagi, saya tak terlalu reaktif. Masih godaan
untuk sekadar menanyakan kabar kapan tiba atau mengucapkan selamat datang tak
saya lakukan. Masih berharap biarlah semuanya wajar apa adanya sambil menanti
kejutan apa yang akan diberikan Sang Waktu.
Saya akhirnya menyapa maspak
Faris Stevy saat Sabtu pagi ketika melihat ia menaruh foto salah satu bagian
bangunan di Fort Rotterdam di story instagram yang sejak beberapa waktu lalu
hanya akan kamu temui di akhir minggu. “Selamat datang”, saya menyapa dan
kemudia tak lama dibalas wajar. Selanjutnya saya menyiapkan segala sesuatunya
untuk menjadi bagian dari panggung FSTVLST. Mulai dari menghafalkan kembali
beberapa lagu-lagu yang saya harap dibawakan, memastikan jika kaos buluk
bergambar para personil FSTVLST yang saya beli 8 tahun lalu saat lagu Tanah
Indah pertama kali dibawakan di panggung dengan sangat emosional, dan mengingat
kembali sensasi-sensasi apa yang biasanya saya temui saat berada di tengah
kerumunan para pengantusias Jenny dan kemudian FSTVLST dan tentu memastikan
bahwa ibunya maha dan dua bocah cilik di rumah merelakan saya kembali nonton konser
tanpa mereka setelah RIC beberapa waktu lalu.
Sabtu malam ba’da Magrib saya
bersiap disaksikan Suar dan Ibunya maha. Setelah semuanya siap mulai dari kaos
FSTVLST yang lagi saya kenakan untuk mendatangi konser, topi hadiah dari Sawing
saat ultah beberapa tahun lalu, celana cakar yang saya beli di Bone dan sepatu
yang bagian bawahnya sudah hampir rusak namun masih nyaman saya pakai dan
hoodie ERK yang beberapa bulan ini menemani saya kemana-mana serta totebag
Creative Common serta sebotol air mineral, saya berangkat.
Oh iya, sebelum berangkat saya
sudah berkomitmen jika kali ini saya akan lebih adem menonton. Akan lebih
memilih berjarak dari kerumunan sehingga saya bisa menikmati detail-detail lagu
secara sempurna. Sambil menunggu cerita-cerita apa yang mendatangi saya,
seperti yang biasa saya lakukan di Jogja dulu. Bismillah, saya berangkat ke
venue dengan harapan-harapan.
Udara dingin sisa hujan siang
hingga sore masih terasa saat motor saya pacu tak cepat seperti biasanya
melewati jalur yang tiap hari saya temui sebelum akhirnya menuju Fort
Rotterdam. Di sepanjang jalan, bayangan saya serasa terang ke masa lalu saat
hendak menuju salah satu konser FSTVLST di JCC Jogja dan melewati flyover
Janti. Bedanya kali ini tanpa partner saya, Sawing. Belum lagi
bayangan-bayangan masa lalu berhenti berkelebat, saya sudah sampai di depan
Fort Rotterdam dan segera berada di barisan yang tak terlalu padat dan hendak
menukarkan tiket untuk kemudian masuk ke venue.
Setelah pemeriksaan dan
melewati gerbang, saya langsung bertemu beberapa orang kawan yang kemudian agak
mengubah rencana malam itu. Saya
kemudian terlibat pembicaraan serius soal beberapa hal rumit dan ribet tentang
skena musik kota, relasi kuasa industri kreatif di Makassar dan beberapa hal
lainnya yang akhirnya membuat saya hanya menikmati sayup-sayup Natinson dan
kemudian Ruangbaca dari tempat kami bercakap.
Percakapan akhirnya harus
dihentikan karena FSTVLST sudah dipersilahkan untuk naik ke panggung dan kami
menuju area panggung utama. Hujan Mata Pisau menjadi lagu pembuka dan saya dan
teman-teman menyaksikan dari jarak yang cukup jauh. Tapi tak apalah, toh
nukannya saya memang tak ingin terlalu dekat dengan kerumunan. Tapi menuju lagu
kedua, para kawan ini memilih pamit pulang. Malam itu memang mereka tak punya
agenda nonton. Dan saya memilih lebih dekat dengan panggung mesti namun tak
terlalu dekat.
Saat Ayun Buai zaman mengalun,
seorang kawan yang tadi pamit kembali menyapa dari belakang. Ia tak jadi balik
rupanya dan kembali menonton. Godaan untuk lebih dekat ke panggung tak bisa
saya tolak saat Farid memberi pengantar menuju lagu Tanah Indah. Saya meminta
izin ke kawan dengan kode kalau saya kan lebih merapat ke kerumunan yang sedari
tadi sudah memulai hingar bingarnya dengan crowd surfing dan moshing.
Foto: Muh. Ardha / @muh.ardha |
Dan pilihan saya lebih merapat ke kerumunan tak sia-sia. Disana saya bertemu sensasi-sensasi itu lagi. Yang sekelebat membawa saya sebentar ke panggung-panggung FSTVLST yang sering saya datangi dulu di Jogja.
Saat merapat ke area yang
berjarak kira-kira tiga meter dari barikade, sembari menunggu Tanah Indah mulai
dimainkan. Disana saya menjumpai beberapa teman yang saya kenal tepat didepan
saya dan tepat disamping saya ada pasangan muda mudi yang juga saya kenal dan
kemudian saya sapa. Tiab tiba saya teringat satu peristiwa yang sama beberapa
tahun lalu saat menyaksikan FSTVLST di JCC Jogja. Saat itu saya tepat berada di
dekat muda mudi yang terlibat percakapan sederhana namun berisi saat lagu Hari
Terakhir Peradaban dimainkan.
“Sepertinya saya termasuk yang
gila belanja itu” kata perempuan kepada teman laki-lakinya. Dan kemudian
dibalas penyataan serupa oleh sang pacar.
Potongan percakapan itu tak
pernah saya lupakan dan kemudian membuat saya semakin yakin jika musik harusnya
memang dapat menjadi medium lahirnya ruang percakapan.
Koor massal Tanah Indah
membahana dan saya agak sedikit terdistraksi dengan perempuan yang berada tepat
disamping saya yang sekaligus memisahkan saya dengan dua muda mudi yang saya
kenal dan sebelumnya telah saya sapa. Ia hafal dan menyanyikan Tanah Indah
dengan semangat tak biasa. Saya sempat menoleh sebentar dan mengetahui jika ia
berjilbab sama dengan beberapa peremmpuan yang sebelumnya telah berada di bibir
barikade panggung menanti giliran Raisa yang malam itu menjadi headliner.
Tiba-tiba saya teringat
beberapa perempuan yang sepertinya masih duduk di bangku SMP yang berada tepat
didepan saya saat FSTVLST menjadi pembuka EFek Rumah Kaca di salah satu acara
clothingan di Jogja beberapa tahun silam. Saya tiba-tiba menjadi semacam
pembatas dan sekaligus penjaga mereka dari kemungkinan terkena efek crowd surfing. Saat itu saya bayangkan
kelak punya anak perempuan dan mengajak saya datang ke konser FSTVLST dan
akhirnya saya juga harus menjadi bodyguard
yang memastikan mereka tetap dapat menikmati konser dan pulang tanpa lecet.
Mungkin mereka saat ini sudah sedewasa perempuan bejilbab yang berada tepat di
samping saya dan begitu semangat menyanyikan lagu-lagu FSTVLST meski beberapa
lirik agak salah…hehehe…
Saya sebenarnya berniat
mewawancarainya atau sekdara menanyai sejak kapan ia menyukai FSTVLST tapi saya
piker nanti saja setelah konser berakhir. Terus saya pikir ia berteman dengan
muda mudi yang saya kenal dan telah saya sapa sebelumnya. Dan berarti ia juga
sejurusan dengan saya di S1 dulu dan karenanya saya pikir wajar jika ia
menghafal lagu-lagu FSTVLST karena seingatku di himpunan jurusanku itu lagu-lagu
FSTVLST memang sering diperdengarkan. Tapi perkiraan saya salah. Dan si gadis
berjilbab terlanjur pergi saat saya hendak mewawancarainya.
Panggung FSTVLST ditutup
dengan Mati Muda dan saya tak mungkin tak tergoda semakin mendekat ke kerumunan
yang sedari lagu awal telah berjibaku satu dengan yang lainnya. Saya
sebenanrnya berharap panggung ditutup dengan Maha Oke yang sepertinya tak
pernah lagi dibawakan. Tapi tak apalah toh saya dan anak muda-anak muda malam
itu menikmatinya.
Setelah panggung usai saya
lalu menemani dua muda mudi yang telah saya sapa tadi untuk berjumpa FSTVLST di
belakang stage. Saya sendiri tentu ingin bertemu, bukan seperti pengidola yang
hendak bertemu idolanya, tapi sebagai keluarga. Setelah saling menyapa,
memastikan semua dari kami baik-baik saja beserta keluarga, percakapan keumdian
kami lanjutkan di hotel tempat FSTVLST dan kru nginap. Dan saya sempat
diinterview soal KBJ dan kedekatannya dengan Jenny dan kemudian FSTVLST. Dan
seperti itulah, sejak dulu saat panggung berakhir di angkringan Pak Tegho
hingga sabtu malam kemarin selalu seperti itu. Semuanya serupa keluarga. Dan
kami terus merayakannya.
Sampai jumpa lagi FSTVLST.
Semoga album segera kelar.
Makassar, 9 Desember 2019
Menonton FSTVLST, Menyambangi Keluarga dan Sensasi-Sensasi Masa Lalu
Reviewed by Kedai Buku Jenny
on
December 08, 2019
Rating:

No comments: