Kamis, 30 November 2017

Menemukan Eva

Memutuskan membaca novel ini satu hari sebelum ulang tahun ke 33, menurut saya sebuah keputusan yang salah. Setelah menghabiskannya dalam sehari, Eva beserta semesta hidupnya menghempaskan saya dengan keras  pada perjalanan panjang yang saya lalui.  

Yah, ini bukan novel biasa, Eva bahkan bukan perempuan biasa. Lahir dari rahim seorang pekerja seks dan ayah seorang seniman kaya pecandu narkoba adalah guratan takdir yang tak bisa ia pilih. Kebingungan, kemarahan, ketidaktahuan dan kejijikannya terhadap muasal dirinya, membuat Eva dengan berani menggariskan hidupnya sendiri pasca tamat SMA, menuju kehidupan kampus bermodalkan kerja paruh waktu dan beasiswa negara.  Perguruan tinggi mempertemukan Eva dengan realitas baru, ia menyaksikan ketimpangan kecurangan kemasabodohan dalam waktu bersamaan sekaligus. Alih-alih mendapatkan jawaban atas tanya dalam dirinya, Eva menemukan tanya dan jawaban baru pasal struktur berwarganegara yang diuatakatik  dan agama yang dimanipulasi.  Basis pengetahuannya yang memadai saat mahasiswa, meluruskan jalan Eva menjadi seorang reporter. Kecurigaan dan pandangannya yang visioner untuk setiap liputan yang ia wartakan menjadikannya figure cemerlang di tempat kerja. Eva berhasil menunjukkan kemilau cahayanya di usia yang masih muda, dan punya Mada pula,  pacarnya, seorang mahasiswa Seni Rupa, yang bersamanya menjalani hubungan jauh dari ke-lebay-an anak muda jaman now. Namun, di tengah kegemilangan prestasinya, Eva  tidak menakar kemampuannya menerima kenyataan kenyataan pahit yang memburunya bersamaan dengan pencarian menyeluruh terhadap dirinya sebagai seorang manusia. Menemui perselingkuhan pacarnya, kebobrokan sistem kerja di tempat kerjanya, kebusukan pemerintahan di negaranya, Eva bergumul hebat dengan ide-ide falsafah keadannya lalu akhirnya memutuskan untuk menjadi tiada.

Apa yang membuat Eva menjadi istimewa atau tidak biasa? Di awal membacanya, di bab pembukaan yang pendek, saya bahkan bergumam kalau saya salah pilih bacaan kali ini. Eva yang muncul dengan raungan atas kacau balau hidupnya mengingatkan saya dengan kisah perempuan di  Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur nya Muhidin M Dahlan. Setelah membeli buku itu 2 kali dan hilang dua kali pula, kami sampai pada kesimpulan bahwa  tokoh itu terlalu dangkal berpikir ketika memutuskan menjadi pelacur sebagai jawaban atas peliknya aturan agama yang mengikatnya kala itu. Pikir saya, Eva mungkin sama tidak cerdasnya dengan tokoh itu, karena membaca plot awal,  saya sudah bisa menebak bahwa Eva akan bunuh diri. Walau begitu, saya tetap melanjutkan kisahnya.

Alasan saya sangat simbolik. Saya penasaran dengan judul setiap bab yang menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti dan setiap bab itu diwakili oleh symbol yang sering saya lihat dan saya bahkan tidak tahu itu adalah symbol yang menandakan sesuatu. Cilakanya, saat itu hingga sekarang saya tidak terkoneksi dengan internet sehingga tidak ada daya saya selain membacanya lebih lanjut daripada berkubang penasaran. Dan saya tidak menyesal, di bab ketiga dan seterusnya, Rhy Husaini, penulisnya memperlihatkan penyajian cerita yang berbeda. Pergulatan demi pergulatan ide disajikan dengan ciamik. Mulai isu korupsi di lembaga Pendidikan Tinggi, pertarungan ide Marxis untuk direlevansikan di Indonesia,tentang kegagalan kaderisasi di lembaga-lembaga kemahasiswaan baik internal maupun ekesternal kampus, tentang falsafah muasal manusia dan ketunggalan Tuhan yang dikawinkan secara brillian dengan kisah-kisah babad tanah Jawa yang asing namun menjadi masuk akal di kepala saya. Bab selanjutnya, Rhy menyentuh sakralitas beragama. Dan dia sama sekali tidak memilih berhati-hati.

Biasanya jika buku itu ditulis oleh penulis yang tidak saya kenal, saya akan menunggu setelah karyanya habis saya baca, lalu menelisik penulisnya demi  alasan subjektivitas. Tapi, karena penasaran lagi, saya mengintip si Rhy Husaini ini. Dia masih mahasiswa ternyata. Saya ingat, untuk “22 –(Mu)” di halaman depan bukunya bisa saja adalah umurnya sekarang. Sungguh, saya tidak membayangkan karya ini lahir dari seorang mahasiswa yang terpaut 11 tahun di bawah saya. Ia memilih tutur bahasa yang sangat berani, cenderung ugal-ugalan tapi sesekali putis. Ia menuturkan  ide-ide yang tidak pop untuk diangkat dalam novel dan  sekali lagi, itu pilihan yang berani. Saya makin penasaran dengan buku apa yang ia konsumsi sejak kecil.  

Alur mundur konsisten dipilih Rhy untuk mengemas kisah Eva dan sama sekali tidak membosankan. Walau banyak kajian ilmiah yang ia paparkan secara langsung dan tidak langsung, novel ini tidak meninggalkan khittahnya sebagai karya sastra. Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik penulis pun dalam banyak plot menurutku tidak ia biarkan sebagai ruang untuk menggurui pembacanya.  Yang sedikit mengganggu saya adalah kehadiran cerita feodalisme dalam dunia kerja dalam hal ini pramugari yang muncul lewat sosok G, sahabat si Eva. Walau sebenarnya yang ia paparkan fakta menarik, namun kisah ini tidak mengutuh dalam cerita, terkesan dipaksakan.

Namun, yang paling bikin saya tidak bisa berhenti membaca buku ini adalah simbol-simbol yang saya sebutkan di awal tadi. Simbol ini dijelaskan di bab sebelum akhir tulisan yang menjelaskan dirinya sejak 270 hari sebelum memutuskan bunuh diri. Walau begitu, saya belum mengerti sepenuhnya. Fakta untuk smbol tersebut, harusnya ada di tulisan ini, jika saja paket dataku sudah aktif. Tapi memupuk penasaran itu penting, ia akan membawamu pada haus yang tak berkesudahan.

Sebelum menutup, ada dua hal  lagi yang menarik. Pertama, Eva membeberkan fakta kekinian Jogja yang sedang menuju pembangunan skala besar berkiblat pada modernisasi a la kapitalisme lewat pertemuannya dengan Mas Dodok penggagas gerakan “Jogja Ora Didol”, bisa jadi wawancara ini fakta. Dan yang kedua, Si Eva dan temannya G sempat nonton konser akustiknya Jenny (sebelum berubah menjadi FSTVLST) dan mendengarkan Mati Muda yang dilantunkan bersama Frau. Kalau kalian dengar via youtube, menurut saya sekali lagi bisa jadi, lagu itu lah yang menguatkan Eva untuk bunuh diri di usia muda. “Hidup tidak perlu terlalu lama jika dosa yang berkuasa. Jika harus mati, maka matilah.”   

Dan akhirnya, kalian mahasiswa dan anak anak muda harus membaca novel ini. Ada realitas yang mungkin, ada fakta yang juga terjadi di depan mata kita, ada pergulatan intelektual, ada diskursus, ada kuliah umum, dan ada Jenny di buku ini. Setelah membaca, kalian mungkin akan mengangguk setuju atau marah memaki karena tidak sepaham. Begitulah karya, ia harus dibicarakan. Sayangnya, buku ini sudah Sold Out di Kedai Buku Jenny, jadi selamat berburu.   

Mengakhiri November yang manis dan basah

Harnita Rahman

1 komentar:

Aldryk H.Saleh mengatakan...

Menarik artikelnya.

Boleh minta kontak wa ibu harnita

Posting Komentar

 
CC 2013 KEDAI BUKU JENNY BAHAGIA ITU SEDERHANA!